Malam semakin larut. Mungkin pukul 01.00 dini hari atau lebih, aku tak berani melihat ke arah jam dinding yang tergantung pada tembok, tepat di atas kepalaku. Udara juga semakin dingin, memaksaku untuk tetap bergelung dibawah selimut tebalku. Aku yakin di luar sana langit sedang bertabur bintang. Ku yakinkan diriku sendiri, dengan membuka tirai jendela yang tak jauh dari ranjang tidurku. Benar. Langit bertaburkan bintang. Ah, tiba-tiba aku merasa takut melihat langit yang hitam di atas sana, walaupun kelip-kelip cahaya bintang yang bagaikan berlian itu membuatnya tampak indah.
Telpon genggamku di atas meja bergetar beberapa kali. Perasaan takut mulai menggerayangi hatiku. Aku tak berani mengangkatnya. Getar telpon genggamku berhenti. Aku sedikit merasa lega.
Mataku tak mau terpejam sedikitpun, aku sudah mencoba berulang kali untuk terlelap. Namun tak sedikitpun rasa kantuk menyerang mataku. Otakku pun sama sekali tidak memberikan sinyal kantuk barang sedikitpun pada mataku. Aku benar-benar tersadar sepenuhnya. Kucoba untuk membayangkan hal-hal indah, mengingat-ingat kembali kejadian pagi tadi yang membuatku tertawa lepas, membayangkan domba dan menghitungnya. Kuhela nafasku panjang. Lampu tidur di atas meja yang redup, aku pikir akan membantuku cepat tidur. Tapi tidak. Aku masih tak dapat tidur nyenyak. Sudah hampir dua minggu lebih, aku selalu melalui malam-malamku dengan susah tidur. Kata dokter, aku terkena insomnia ringan. Tapi yang pasti aku merasa sangat ketakutan.
Telpon genggamku di atas meja bergetar kembali beberapa kali, membuatku terkejut bukan kepalang, lamunanku buyar seketika. Sejak sebulan yang lalu aku tak lagi memasang nada dering pada telpon genggamku. Rasanya aku masih sangat takut kalau mendengar nada dering yang keluar dari telpon genggamku sendiri. Apalagi mengangkat dan mendengar seseorang di seberang sana berbicara padaku. Rasanya ingin segera kututup dan mengakhiri pembicaraan.
Kira-kira kejadian itu sudah berlalu sekitar dua bulan yang lalu. Tapi masih saja terngiang-ngiang ditelingaku. Suara-suara itu, ya suara-suara itu.
Malam itu, aku masih saja berkutat dengan pekerjaanku dikantor. Laporan keuangan perusahaan. Rasanya pikiran ini mulai penat, bosan dan lelah, tapi laporan bulanan ini harus selesai malam ini juga. Kalau tidak, aku bisa membayangkan kata-kata apa yang akan bos lontarkan kepadaku. Untungnya saja aku mempunyai tempat mengeluh dan mencurahkan unek-unek yang paling menyenangkan, Mas Rio. Dia calon suamiku. Kami akan segera menikah!
Aku dan Mas Rio telah bertunangan sejak 6 bulan yang lalu. Jika kuhitung-hitung, empat bulan lagi menuju pelaminan. Aku sudah tak sabar menunggu hari bahagia itu tiba. Seluruh keluargapun sudah jauh-jauh hari mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pesta pernikahan kami. Pemesanan gedung, gaun pengantin, tempat bulan badu, seserahan, katering, bahkan pernik-pernih. Tentu saja aku merasa sangat bahagia. Perasaan membuncah sering kali memenuhi hati ini. Apalagi Mas Rio adalah tipe laki-laki yang selalu di idam-idamkan oleh setiap wanita manapun. Mapan, tampan, karir yang menjanjikan, pengertian dan penyabar. Aku benar-benar merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Tidak ada yang paling bahagia selain diriku.
Malam itu aku menolak dijemput oleh Mas Rio, karena pekerjaanku akan memakan waktu cukup lama. Aku tidak ingin Mas Rio menungguku. Dia pasti sudah lelah dengan pekerjaan kantornya. Dan lagi jarak kantor dan rumahku cukup dekat.
Telponku genggamku berdering. Kulihat sebuah nama dilayar telpon genggamku, Mas Rio calling. Dia menawarkan diri untuk menjemputku.
”Makasih, Mas Rio pulang saja. Mas pasti capek, aku bis apulang sendiri.”
”Nggak apa-apa, aku juga kangen pengen ketemu.” Aku tersenyum senang mendengar kata-kata Mas Rio. Mas Rio selalu bisa membuatku merasa bahagia dan berbunga-bunga.
”Baru kemaren kita ketemu Mas? Apa iya masih kangen?”
”Kamu itu ngangenin. Aku pengen ngobrol-ngobrol lagi.” Suaranya terdengar aneh. Tidak seperti biasanya. Aku tidak tahu letak keanehannya, hanya saja aku merasa janggal saja.
”Mas, kamu kenapa?”
”Nggak..” dia terkekeh. ”Ya sudah kalau tidak mau.” Pembicaraan terputus seketika. Aku sempat tidak percaya dengan apa yang Mas Rio lakukan. Mas Rio tidak akan menutup telepon begitu saja tanpa mengucapkan sebaris kata-kata manis buatku, walaupun hanya ucapan selamat malam atau selamat tidur.
Sesampainya di rumah segera ku telpon Mas Rio. Beberapa kali aku harus me-redial nomor Mas Rio. Mas Rio biasanya tidak begini. Biasanya mas Rio akan segera mengangkatnya. Kali ini tidak, aku harus menunggu beberapa menit baru kemudian diangkat.
Suaranya terdengar seperti baru bangun tidur. ”Mas, sudah tidur?” pertanyaanku hanya di jawab dengan sebuah deheman pendek tak berarti. ”Mas Rio marah karena aku tidak mau dijemput? Bukannya kadang-kadang aku begitu juga?” Mas Rio mengiyakan. Aku bisa merasakan mas Rio tersenyum di sana. Aku cukup lega. Itu tandanya Mas Rio tidak marah.
”Jadi kenapa mas Rio jadi aneh?”
”Aneh? Masa? Aku nggak apa-apa kok, aku cuman capek saja.” Kami berdua terdiam beberapa saat tanpa berkata-kata.
"Wulan?" panggil Mas Rio di seberang sana.
"Ya, Mas?"
"Kamu cinta kan sama aku?"
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Mas Rio. ”Kenapa mas? Masih nggak yakin juga?”
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul lagi setelah sekian lama tidak ditanyakan Mas Rio. Dulu setelah kami jadian beberapa bulan, Mas Rio sering kali menanyakan hal itu kepadaku. Kadang itu membuatku merasa terganggu. Entah mengapa. Mas Rio merasa aku tidak mencintanya dengan tulus.
Mungkin kalau aku boleh jujur, aku menerima Mas Rio karena aku ingin melupakan mantan tunanganku dan memulai sebuah hubungan baru yang lebih baik. Tunanganku sebelumnya meninggalkan aku begitu saja dan menikah dengan wanita lain tanpa memberi kabar.
Saat pertama kali mengatakan iya pada Mas Rio, dan menerima cintanya, aku masih dalam masa-masa patah hati karena tunanganku terdahuluku. Aku memang belajar mencintai Mas Rio. Dan rasa cinta itu benar-benar tumbuh setelah lebih dari setahun kami bersama. Saat itu aku benar-benar berjuang keras untuk mencintai Mas Rio. Akhirnya cinta itu datang dan benar-benar membuat hatiku membuncah. Sampai pada akhirnya Mas Rio melamarku tiga bulan yang lalu.
”Aku hanya pengen mendengar lagi saja kok.”
”Aku sayang Mas Rio.” Aku tersenyum. Dan sekali lagi aku bisa merasakan kalau Mas Rio juga tersenyum bersamaku.
”Istirahat ya Wulan? Aku tidak mau wajah calon istriku tidak segar si pesta pernikahan nanti. Kamu harus terlihat lebih cantik dari biasanya.” Mas Rio terkekeh. ”Wulan? Kamu masih menyimpan kalung pemberianku?”
Kalung perak dengan liontin berbentuk hati berwarna putih bening itu diberikan Mas Rio sekitar empat bulan setelah aku menerima cintanya. Kalung yang sangat indah. Jika di lihat di bawah dinar matahari, banyak sekali warna warni yang terpantul dari sana. Kata Mas Rio warna-warni itu adalah gambaran kehidupan kami nanti yang pernuh warna setelah menikah. Aku selalu memakainya.
”Aku memakainya, Mas.”
”Jangan hilang ya?” Aku dengar Mas Rio meneguk air. Dia pasti sedang meminum susunya. Mas Rio punya kebiasaan minum susu sebelum tidur, ku pikir tadi Mas Rio sudah tidur. Katanya, Mas Rio tidak akan bisa tidur nyenyak sebelum minum segelas susu.
”Wulan, kalau seandainya nanti kita tidak bisa bersama terus, kamu harus janji sama aku ya?”
”Mas Rio ngomong apa sih?” ku potong perkataan Mas Rio sebelum berakhir.
”Ini sendainya Wulan…”
”Kita bakal bareng terus! Ya kan Mas?” Tak kusangka aku merasa sangat sedih, hanya karena Mas Rio mengucapkan kata-kata itu. Sampai-sampai aku tak mampu menahan air mataku. Aku mencoba menahan diri akan suara isakkanku tak terdengar oleh Mas Rio. ”Mas Rio sudah janji sama aku. Juga sama bapak dan ibu!”
”Bukan begitu Wulan…coba dengarkan aku dulu. Pernah aku mengingkari janji? Tapi kalaupun nanti aku tak bisa bersamamu terus, mau kau berjanji. Kamu harus bahagia walaupun aku nggak ada di sisi kamu ya?” Nada bicara Mas Rio terdengar sedih. ”Wulan? Kamu menangis?”
Tiba-tiba saja hatiku merasa dicabik-cabik, perih sekali. Kata-kata Mas Rio terdengar seperti ucapan perpisahan. Aku terdiam beberapa saat. Rasanya aku ingin sekali marah pada Mas Rio. Tega-teganya dia mengucapkan kata-kata seperti itu kepadaku. Tapi bagaimana mungkin aku marah pada seorang Mas Rio yang sudah begitu baik padaku? Mas Rio mau menerimaku yang masih mencintai orang lain. Mas Rio juga yang mengajariku untuk mempercayai seorang laki-laki. Mas Rio juga mencairkan hatiku yang beku. Mas Rio yang membawa keceriaan di hari-hari kelabuku. Bagaimana mungkin aku marah?
Suara Mas Rio yang memanggil-manggil namaku rasanya tidak terdengar sama sekali. Rasanya hanya ada suara kemarahan dari dalam hati ini. Menggema keseluruh sudut kamar. Mas Rio sudah menemukan perempuan lain! Dan dia ingin pergi dariku? Ku putus percakapan kami tanpa mengucapkan kalimat penutup. Kulemparkan telpon genggamku keatas tempat tidur, merebahkan diri dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.
Satu jam berlalu, perlahan-lahan pikiranku mulai jernih dan suasana hatiku membaik. Kurapatkan punggungku pada tembok. Dinginnya tembok menjalar keseluruh tubuhku, merilekskan otot-ototku yang tegang. Aku heran, kenapa aku sedemikian emosinya? Belum tentu juga Mas Rio sedang berusaha mengucapkan selamat tinggal padaku. Mungkin saja Mas Rio sedang bercanda, melakukan sedikit test kepadaku? Ah tega-teganya Mas Rio melakukan itu padaku. Walaupun aku tahu Mas Rio sering menggodaku, tapi malam ini sepertinya Mas Rio nampak bersungguh-sungguh. Atau aktingnya mengalami kemajuan, sehingga aku tak mampu lagi membedakan antara bercanda dan serius?
Sebuah telpon masuk ke telpon genggamku, nama Mas Rio nampak pada layar telpon genggamku. Jam dinding dikamarku sudah menunjukkan pukul 01.05 dini hari. Aku membiarkan telpon genggamku berdering beberapa kali. Saat kuangkat, aku mendengar suara Mas Rio memanggil namaku, namun seketika itu juga sepi, tidak ada balasan apapun dari Mas Rio.
Aku mencoba untuk memanggilnya berulang-ulang. Sama saja tak ada jawaban. ”Mas Rio, jangan bercanda!” Samar-samar aku mendengar suara derit pintu yang terbuka dengan cepat, kemudian terbanting dengan kasar. Aku tak dapat memperkirakan suara-suara itu berasal dari mana. Detak jantungku terpacu dengan cepat, keringat dingin mulai membanjiri kulitku.
Aku berusaha memanggil Mas Rio, berharap suaranya terdengar diseberang sana menjawab panggilanku. Namun yang terdengar adalah langkah-langkah kaki menggunakan sepatu, sepertinya sepatu bot. Langkah-langkah itu terdengar begitu berat. Mas Rio tidak sendirian! Bersama siapa? Siapa orang-orang itu? Jantungku benar-benar semakin cepat berdetak, rasa-rasanya aku mampu mendengar suaranya keluar dari rongga dadaku.
Rasanya ingin sekali aku menangis, saat mendengar beberapa benda berjatuhan di lantai dan beberapa dari mereka pecah. Suara kaki-kaki kursi yang bergesekan dengan lantai secara paksa terdengar jelas. Dan sebuah teriakan kasar, memaki, mengumpat dan bertengkar membuat aku yakin kalau mereka laki-laki! Aku semakin tak kuasa menahan diri untuk menangis. Tiba-tiba dua buah tembakan terdengar. Memaksaku untuk menutup telpon. Aku tak lagi ingin mendengar.
Keesokan harinya, aku menemukan rumah Mas Rio ramai dipenuhi orang. Beberapa orang polisi mondar-mandir. Police line berwarna kuning itu terbelit-belit di pintu gerbang rumah Mas Rio. Dan aku tak ingat lagi, tiba-tiba dunia gelap saat kulihat jasad Mas Rio dengan dua luka tembak di dadanya di gotong oleh petugas paramedis.. Dari apa yang terdengar dari orang-orang di sekitarku, semalam terjadi sebuah perampokan dengan kekerasan. Dan korbannya adalah Mas Rio, calon suamiku.
Aku mengangkat telpon genggamku ragu-ragu, sebuah suara terdengar di seberang sana.
”Masih tidak bisa tidur?”
Aku mengiyakan, dan meminta ijin untuk segera menutup telpon. Aku tak ingin mendengar lebih banyak lagi.

